Meteornews ** - Di balik gemparnya kasus penangkapan 2 ton s4*bu, tersimpan duka mendalam dari sebuah keluarga kecil. Seorang ibu hanya bisa menangis histeris melihat anaknya, yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK), kini harus duduk di kursi pesakitan dengan ancaman hukuman mati.
Bagi sang ibu, putranya hanyalah seorang buruh migran laut yang berangkat mencari nafkah, bukan seorang kriminal.Keluarga menegaskan bahwa pemuda itu hanyalah pekerja harian yang lugu. Ia hanya menjalankan instruksi nakhoda demi upah kecil untuk menyambung hidup keluarga di kampung, tanpa pernah tahu bahwa palka kapal yang ia jaga berisi barang haram.
Baginya, laut adalah harapan, namun kini justru menjadi jalan menuju tiang gantungan."Jangan jadikan anak kami tumbal," jerit pihak keluarga di hadapan awak media. Mereka merasa hancur karena buruh kecil yang tidak tahu apa-apa justru dijadikan tameng oleh s!ndikat internasional.
Mereka menuntut keadilan agar hukum tidak hanya tajam kepada pekerja kecil, sementara b4ndar besar yang sebenarnya tetap melenggang bebas.Kini, keluarga besar sang ABK hanya bisa berharap pada hati nurani penegak hukum. Mereka mendesak agar dilakukan gelar perkara yang jujur dan transparan demi membuktikan bahwa anak mereka adalah korban tipu daya.
Di tengah ketidakpastian, mereka terus berdoa agar anak mereka yang hanya seorang buruh bisa kembali pulang dan lepas dari jeratan maut.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!