Masjid Kuno Bondan, yang berlokasi di Desa Bondan, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga penanda sejarah panjang wilayah tersebut. Dikenal juga dengan nama Masjid Darussajidin atau Masjid Sapuangin, bangunan kayu ini menyimpan nilai arkeologis, historis, dan arsitektur yang unik.
Pada tahun 2022, masjid ini secara resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya peringkat kabupaten oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu. Status ini menjadi pengakuan atas pentingnya masjid dalam melestarikan warisan budaya.
Didirikan pada tahun 1414 Masehi, Masjid Kuno Bondan diperkirakan menjadi salah satu masjid tertua di Jawa Barat. Bahkan, masjid ini telah berdiri sebelum terbentuknya struktur pemerintahan Cirebon dan Indramayu seperti yang dikenal saat ini.Menurut perwakilan TACB Indramayu, Dedy S Musashi, masjid ini menjadi jejak awal penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Barat.
"Sosok di balik pendiriannya adalah Syekh Dzatul Kahfi, yang juga dikenal sebagai Syekh Majagung atau Pangeran Atas Angin, seorang ulama asal Yaman yang datang membawa ajaran Islam ke wilayah ini. Masjid ini kala itu berfungsi sebagai pusat dakwah, tempat masyarakat pesisir belajar agama sekaligus membangun peradaban baru," jelasnya.
Nama Masjid Sapuangin, yang melekat dalam ingatan warga, konon berhubungan dengan kemampuan spiritual pendirinya yang dikenal memiliki ilmu "Sapu Angin".
Dedy menambahkan bahwa, "Terlepas dari legenda yang menyertainya, nama itu menjadi bagian dari identitas kultural yang diwariskan turun-temurun.".Bangunan ini menampilkan arsitektur tradisional Nusantara yang khas. Struktur utamanya berbentuk panggung, ditopang oleh kayu jati tua yang dirangkai tanpa paku besi, melainkan menggunakan sistem pasak. Atapnya berbentuk limasan dengan penutup sirap kayu yang masih dipertahankan.
Pada tahun 2024, masjid ini menjalani pemugaran yang melibatkan tim konservasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) IX Jawa Barat. Pendanaan berasal dari Pemerintah Kabupaten Indramayu. Perbaikan difokuskan pada atap sirap serta pembersihan kimiawi pada bagian memolo. Selain itu, dilakukan pula pendataan ulang dan penelitian menyeluruh terhadap struktur kayu masjid.
Dedy menekankan bahwa upaya ini bukan sekadar mempercantik tampilan, melainkan menjaga ruh sejarah yang terkandung di dalamnya.Menurut juru pelihara Masjid Kuno Bondan, Mastara, masjid ini masih aktif dipergunakan hingga saat ini, terutama di bulan Ramadan.
"Kalau di bulan Ramadan (Masjid Kuno Bondan) lebih ramai dari biasanya. Ada salat tarawih, tadarus pakai memolo sampai jam 10 malam, terus sorenya ada bazar Ramadan, ada buka puasa bersama," ujarnya.
Mastara berharap status Masjid Kuno Bondan sebagai cagar budaya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus melestarikannya. Ia menambahkan, "Ke depannya semoga tetap terjaga, kita semua (masyarakat) termasuk pemerintah bersama-sama melestarikan bangunan ini, dan warga setempat tergerak untuk menghidupi masjid.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!