Meteornews INDRAMAYU | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Indramayu diterpa isu tak sedap. Sebuah unggahan mengenai temuan diduga telur lalat pada menu makanan yang diproduksi oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Bangkaloa Ilir, Kecamatan Widasari, pada Senin (6/4) mendadak viral di media sosial dan memicu kekhawatiran orang tua siswa. Selasa (7/4/2026).
Mirisnya, temuan ini mengungkap fakta mengejutkan mengenai legalitas dan standar kebersihan dapur produksi tersebut. Dapur SPPG Bangkaloa Ilir diduga kuat belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta belum memiliki izin Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Kondisi ini ternyata bukan sekadar kasus tunggal. Berdasarkan data yang dihimpun, dari ratusan SPPG yang beroperasi di Kabupaten Indramayu, hanya 13 SPPG yang tercatat telah memiliki Sertifikat SLHS. Ironisnya, 13 SPPG yang sudah bersertifikat tersebut pun diketahui tetap belum memiliki izin IPAL yang memadai.
Ketiadaan izin IPAL dan Sertifikat SLHS ini menjadi indikasi lemahnya pengawasan terhadap standarisasi dapur produksi makanan massal untuk anak sekolah.Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Sri Anugraeni Supardi, SKM., M.KM, membenarkan kondisi tersebut. Pihaknya mengakui bahwa mayoritas satuan pelayanan gizi di wilayahnya memang belum melengkapi dokumen perizinan sanitasi yang diwajibkan.
"Benar, dari ratusan (SPPG), baru 13 yang memiliki SLHS, itu pun memang IPAL-nya belum ada," ungkap Kabid Kesmas saat dikonfirmasi mengenai legalitas dapur penyedia MBG.
Temuan telur lalat pada makanan merupakan tanda bahaya (red flag) dalam keamanan pangan. Telur lalat mengindikasikan adanya kontaminasi silang dan lingkungan kerja yang tidak tertutup atau tidak higienis. Jika hal ini terus dibiarkan, risiko wabah penyakit saluran pencernaan seperti diare atau tipes mengancam para siswa penerima manfaat.
Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk segera melakukan audit total terhadap seluruh SPPG. Warga menuntut agar distribusi makanan dihentikan sementara pada dapur-dapur yang tidak memenuhi syarat hingga sertifikasi SLHS dan izin IPAL terpenuhi demi keselamatan anak-anak.
Ditambahkan Ketua Asosiasi Media Konferensi Indonesia (AMKI), Andry, mengecam keras temuan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga terkontaminasi telur lalat di wilayah Bangkaloa Ilir, Indramayu. Temuan ini dinilai sebagai bukti nyata ketidakpatuhan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) terhadap standar keamanan pangan dan regulasi kesehatan.Dalam keterangannya, Andry menegaskan bahwa temuan telur lalat pada makanan bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan dan aturan hukum.
"Munculnya telur lalat pada makanan anak sekolah adalah tanda bahwa proses produksi dilakukan di lingkungan yang sangat tidak higienis. Ini adalah kelalaian fatal! Program nasional yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak jangan sampai justru menjadi sumber penyakit karena pengelola dapur tidak patuh pada aturan sanitasi," tegas Andry.
Hingga berita ini diterbitkan belum ada penjelasan resmi dari pihak SPPG Bangkaloa Ilir.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!