Meteor News

Usaha Ikan Asin Indramayu Tak Pernah Menyerah Bahan Baku Langka

METEORNEWS 06 Jul 2026, 12:17
Usaha Ikan Asin Indramayu Tak Pernah Menyerah Bahan Baku Langka
Usaha Ikan Asin Indramayu

Meteor News ** INDRAMAYU | Para perajin ikan asin di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, seolah tak punya waktu untuk menyerah. Meski dihantam kelangkaan bahan baku hingga kepungan banjir rob yang rutin menyapa, mereka tetap konsisten menjaga dapur produksi tetap mengepul.

Iyon (52), salah satu 'pemain' lama di bisnis ini, menceritakan betapa menantangnya menjaga eksistensi usaha di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Masalah utamanya klasik, stok ikan tembang yang seringkali timbul tenggelam di pasaran.

"Memang ada kendala, terutama soal bahan baku. Tapi usaha ini tetap harus dijalankan agar tetap ada penghasilan," ujar Iyon saat ditemui di kediamannya.

Angin segar mulai berembus dalam beberapa pekan terakhir. Permintaan pasar perlahan merangkak naik. Iyon kini hanya bisa berharap cuaca bersahabat dan tangkapan nelayan melimpah agar rantai produksinya tak terputus.

Namun, tantangan Iyon bukan cuma soal ikan. Banjir rob akibat drainase buruk dan penurunan muka tanah menjadi 'musuh' nyata setiap hari. Air asin yang meluap seringkali bercampur limbah, memaksa para pekerja berjibaku dalam kondisi yang jauh dari kata nyaman."Kondisi seperti ini jelas berpengaruh.

Pekerja harus tetap beraktivitas meski air menggenang. Bahkan tembok di sekitar tempat usaha hampir jebol karenaterdampak banjir," katanya.Deretan ikan asin dijemur di depan rumah produksi. 

Meski keadaan tak ideal, Iyon tak mau kompromi soal kualitas. Proses panjang mulai dari pemotongan, penjemuran, hingga pengemasan tetap dipantau ketat. Ikan tembang pilihan dilumuri racun alami berupa campuran garam, gula, dan ketumbar sebelum dijemur di bawah terik matahari. Jika cuaca sedang 'garang', proses penjemuran hanya butuh waktu sehari.Untuk urusan distribusi, ikan asin produksi Iyon sudah punya nama di level regional. Dikemas dalam kardus berkapasitas 10 kilogram, produk ini terbang ke berbagai penjuru Jawa Barat hingga Banten, mulai dari Serang, Jakarta, Cianjur, hingga Tasikmalaya.

Sekali kirim, Iyon mampu menggelontorkan rata-rata satu ton ikan asin. Ritme pengirimannya berkisar antara empat hingga tujuh hari sekali, tergantung denyut permintaan pasar dan ongkos logistik. "Kalau harga sekarang, satu ton nilainya sekitar Rp35 juta. Itu masih omzet kotor karena masih ada biaya modal dan operasional," jelasnya.

Bisnis ini bukan sekadar soal cuan bagi Iyon. Ini adalah warisan turun-temurun yang dirintis orang tuanya sejak tahun 1970-an. Sebagai generasi kedua, Iyon kini memikul tanggung jawab atas nasib 12 karyawan yang menggantungkan hidup di tempat usahanya.

Besar harapan Iyon agar pemerintah lebih serius membenahi infrastruktur pesisir, terutama penanganan banjir rob. Baginya, perbaikan drainase bukan sekadar soal estetika, tapi soal keberlangsungan napas ekonomi warga Eretan Wetan. 

Sumber Berita: Masyarakat
Bagikan:
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!