Meteor News ** INDRAMAYU | Salah satu narasumber berinisial NR (53) Warga Indramayu mengaku mendapat jatah pekerjaan proyek aspirasi dewan (POKIR) dengan cara membayar sekitar 17 ℅ (persen). Rabu (3/6/2026). Menurutnya, sudah menjadi rahasia umum jika POKIR itu diperjualbelikan.
Dugaan Kuat, hampir mayoritas anggota dewan yang dapat proyek aspirasi dikomersialkan. "Kita sudah DP untuk mendapat proyek aspirasi dewan sejak Maret 2026, kita diminta bayar DP Rp34 juta untuk proyek POKIR senilai Rp200 juta. Jadi kalau dihitung, sekitar 17 persen," ungkap NR sumber yang meminta namanya dirahasiakan.
Menurut informasi dana reses anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Indramayu tahun 2026 tercatat naik hingga mencapai Rp1,5 miliar.Ditahun 2025, dana untuk reses 50 anggota DPRD tercatat sekitar Rp7,9 miliar. Namun pada tahun 2026 ini meningkat hingga Rp9,4 miliar persisnya Rp 9.425.295.400.
Padahal pemerintah pusat sedang menganjurkan efesiensi anggaran.Dari hasil reses anggota dewan dan kunjungan langsung dilapangan pada konstituen diwilayah daerah pemilihan masing-masing tersebut, anggota dewan menampung keluhan masyarakat yang dikunjungi dan kemudian dicatat sebagai masukan POKIR (Pokok Pikiran) anggota DPRD Indramayu atau yang lazim dikenal sebutan proyek aspirasi dewan.
Sementara itu, Ketua Warung Nusantara 88 (WN 88) Kabupaten Indramayu, Ahmad Nur Irsyad mengaku prihatin atas munculnya dugaan jual beli proyek POKIR milik anggota dewan Indramayu."Saya juga mendengar ada kabar POKIR yang dijualbelikan. Ini sangat ironis dan menyedihkan.
Niat tulus rakyat yang mengusulkan wilayahnya dibangun, namun disalahgunakan wakil rakyat (DPRD) dikomersialkan. Ini perlu diungkap publik dan diharap APH turun tangan," jelas lelaki kritis yang akrab dipanggil Irsad.
Menurutnya, dana APBD tahun 2026 puluhan miliar untuk proyek aspirasi dewan dinilai menyimpang dan sudah mengarah pada tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)."Logikanya, jika proyek aspirasi dewan dijual, misal 15 persen, maka para pengusaha, kontraktor atau kerabatnya yang mengerjakan bisa dipastikan mengurangi volume pekerjaan, pengusahakan cari untung? Jadi berapa persen yang dikerjakan dilapangan? Ini jelas rakyat Indramayu yang dirugikan," tegas Irsad.
Irsad akan mengumpulkan bukti-bukti dugaan KKN dengan modus jual beli POKIR, selanjutnya akan dilaporkan ke Aparat Penegak Hukum (APH) untuk ditindaklanjuti di proses sesuai hukum yang berlaku.
Kemudian, Ketua Forum Peduli Indramayu, (FPI), Masdi juga menjelaskan, Reses adalah masa di mana anggota dewan (DPR atau DPRD) melakukan kegiatan di luar masa sidang, biasanya untuk kembali ke daerah pemilihannya (Dapil) guna bertemu langsung dengan masyarakat.
Tujuannya adalah untuk mendengarkan dan menampung aspirasi serta keluhan warga, yang kemudian akan diperjuangkan menjadi program pemerintah, salah satunya POKIR."Jika ini benar terjadi adanya dugaan jual beli proyek POKIR, ini sangat melukai hati rakyat khususnya masyarakat yang mendukungnya jadi anggota dewan. Niat tulus rakyat dibayar dengan pengkhianatan dan memperkaya diri sendiri. Ini sama saja memanfaatkan hasil Reses," kritik Masdi.
Masdi juga menyoroti kenaikan angka dana Reses menjadi 9,4 miliar dari tahun sebelumnya Rp7,9 miliar dalam posisi adanya himbauan efesiensi anggaran, menyedihkan," kata Masdi.
Menurutnya, besarnya dana Reses ini perlu didalami karena tidak sebanding dengan acara yang diadakan. Untuk apa saja anggaran itu digunakan, karena praktik dilapangan, Reses anggota dewan tersebut acaranya biasa-biasa saja hanya dihadiri puluhan masyarakat, bahkan ada yang digelar cukup di teras rumah pendukungnya dulu yang tidak membutuhkan biaya besar.
Jangan sampai dana Reses ini disalahgunakan yang berpotensi pada tindakan korupsi. Kami mencium ada dugaan rekayasa pada penggunaan dana Reses," ujar Masdi kritis.
Wakil Ketua DPRD Indramayu, H. Sirojudin yang dikonfirmasi wartawan, Rabu malam (3/6/2026) pukul 21.18 belum merespon. Awak media ini yang menghubungi lewat pesan WhatsApp terkait dugaan rekayasa dana Reses dan dugaan jual beli POKIR tidak dijawab. (Inoy).
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!